Powered By Blogger

Minggu, 23 Januari 2011

seorang pejabat yang terlena akan kehidupan dunia

banyak pejabat indonesia itu terlena akan kehidupan dunia yang hanya lah sesaat mereka terlena akan harta yang mereka miliki sampe* mereka belom puas akan harta yang miiliki sekarang sampe akhir nya mereka pada korupsi semua nya tapi mereka korupsi mengambil uang rakyat aneh nya cuman di kasih hukuman sebentar doang terus di kasih penjara yang enak bangat lagi berbeda sama orang yang tidak biasa mereka melalukan kesalahan terus di kasih hukuman yang lama terus di kasih penjara yang biasa aja lagi emang apa sih perbedaan mereka dengan rakyat biasa sama* manusia aja hanya yang mebedakan ntu harta yang mereka miliki dan kenapa sih cuman perbadaan ntu aja rakyat biasa tidak bisa menikmati apa yang mereka inginkan juga sungguh di sayangkan bila indonesia kayak gini terus bisa* indonesia di kasih musibah besar sama allah......




ini lah para pejabat indonesia yang korupsi dan menyusahkan rakyat nya





ini llah penjara yang enak khusus buwat orang* yang berduit saja sama orang pejabat enak nya jadi pejabat yang korupsi terus di kasih penjara yang seperti ini.....

sangat di sayang bila seorang pemimpin seperti sby meminta kenaikan gaji buwat diri nya sendiri sedangkan indonesia sendiri sekarang sedang di landa kemiskinan lau kenapa seorang pemimpin malah meminta untuk di naikan gaji nya pakah beliau belom cukup dengan uang yang dia miliki apakah beliau di melihat rakyat yang da di bawah nya mereka sedang kelaparan terus mereka aja makan belom tentu bisa enak apa yang di rasakan seorang sby sungguh di sayangkan bila seorang pemimpin seperti sby memikirkan diri nya sendiri bukan rakyat nya.....



inilah seorang presiden yang meminta untuk di naikan gaji nya sangat di sayangkan bila dia seperti itu

Di masa pemilu dahulu
Kami lihat gerak bola matamu seperti radar angkatan perang
Yang dapat melacak suara jangkrik di waktu siang
Sehingga, kami sempat percaya bahwa Tuan-tuan tahu apa yang kami mau
Kami pun sempat percaya bahwa Tuan-tuan akan menjadi pelindung kami
dari orang-orang yang hanya ingin memperkaya diri sendiri
yang hanya ingin menjadikan kuasa dan harta sebagai senjata

Lewat retorikamu di saat kampanye dulu
Kami percaya Tuan-tuan akan akan bersiaga untuk kami sepanjang waktu
Menunggu keluh kesah rakyatmu
Menampung dan merundingkan aneka kehendak kami diantara sesama para politisi

Tetapi setelah masa kampanye jauh berlalu
Kursi berputar menyambut sibukmu
Rumah rakyat yang sejuk mememelukmu
Birokrasi menjadi penyaring tamu-tamumu
Kita pun berjarak seperti tak pernah saling tahu

Jauh di luar ruang kerjamu
ada pagar kekar berteralis baja
Di sana kami berdiri berharap akan sapaanmu
dan bersiap dengan pertanyaan:
Mengapa diammu bukan lagi perenungan?
Mengapa tidurmu bukan lagi jeda pengabdian?
Mengapa retorikamu menjadi tanpa logika?

Di kejauhan pun kami mendengar
Suara tinggi mu menggelegar
menggertak usulan rakyatmu sendiri
yang tengah berharap tegaknya demokrasi sejati
lewat Pemilu dan Pilkada yang bisa menghasilkan pemimpin sejati
(Kami pun bertanya, "Mengapa tuan-tuan tidak berkenan ketika ada orang ingin
menjadi pemimpin sejati negeri ini?")
Dengan sigap tuan-tuan berujar,
"Calon perseorangan merusak sistem!"
"Calon perseorangan harus didukung 15% suara sah!"
Dan seterusnya.. dan seterusnya…

Kami menjadi teringat ketika berjalan menuju ruangan kantormu
Di sana kami melintasi para penjaga berseragam bak bala tentara Kaisar
Romawi
Yang sigap menyuruh kami memarkir kendaraan jauh dari halaman parkirmu
Sehingga kami harus berlari agar segera bebas dari sengatan terik matahari

Masih bisakah kami percayai janjimu
Ketika acungan telunjukmu bukan lagi tanda janji
Tetapi pengawal ucapanmu
bahwa wakil rakyat adalah pemilik kekuasaan legislasi

Kami pun mulai sadar bahwa kita sudah sangat berjarak
karena kemahiran Tuan-tuan membedakan
antara penyalur aspirasi dan kekuasaan legislasi
antara kompetisi dan demokrasi

Di media massa kami membaca
Retorika-retorikamu dengan tajam merobek makna
dan jawaban-jawabanmu yang makin jauh dari logika
mencampuradukkan energi sekumpulan partai dengan energi seorang manusia
yang tidak ada contohnya di mancanegara

Jelas kami seperti orang-orang yang ditinggal pergi
Oleh Tuan-tuan yang dulu mengaku ingin menjadi wakil-wakil kami
dan dulu pernah memberi janji
bahwa engkau akan menampung suara hati kami
Tetapi ternyata waktu itu kami hanya bermimpi

Retorika dan olah mimikmu tentu saja membuat banyak orang terpesona
melumpuhkan niat orang-orang muda yang akan berdemonstrasi
Bahkan membuat para lansia mengangguk-angkuk sambil tertawa
Yang memberi pertanda bahwa akal sehat tidak lagi berarti

Karena logika menjadi tidak berguna
Sementara politik dilanda krisis etika
dan kebijakan-kebijakan tercerabut dari kedaulatan rakyat
maka hari ini kami coba menyapamu dengan puisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar