banyak pejabat indonesia itu terlena akan kehidupan dunia yang hanya lah sesaat mereka terlena akan harta yang mereka miliki sampe* mereka belom puas akan harta yang miiliki sekarang sampe akhir nya mereka pada korupsi semua nya tapi mereka korupsi mengambil uang rakyat aneh nya cuman di kasih hukuman sebentar doang terus di kasih penjara yang enak bangat lagi berbeda sama orang yang tidak biasa mereka melalukan kesalahan terus di kasih hukuman yang lama terus di kasih penjara yang biasa aja lagi emang apa sih perbedaan mereka dengan rakyat biasa sama* manusia aja hanya yang mebedakan ntu harta yang mereka miliki dan kenapa sih cuman perbadaan ntu aja rakyat biasa tidak bisa menikmati apa yang mereka inginkan juga sungguh di sayangkan bila indonesia kayak gini terus bisa* indonesia di kasih musibah besar sama allah......
ini lah para pejabat indonesia yang korupsi dan menyusahkan rakyat nya
ini llah penjara yang enak khusus buwat orang* yang berduit saja sama orang pejabat enak nya jadi pejabat yang korupsi terus di kasih penjara yang seperti ini.....
sangat di sayang bila seorang pemimpin seperti sby meminta kenaikan gaji buwat diri nya sendiri sedangkan indonesia sendiri sekarang sedang di landa kemiskinan lau kenapa seorang pemimpin malah meminta untuk di naikan gaji nya pakah beliau belom cukup dengan uang yang dia miliki apakah beliau di melihat rakyat yang da di bawah nya mereka sedang kelaparan terus mereka aja makan belom tentu bisa enak apa yang di rasakan seorang sby sungguh di sayangkan bila seorang pemimpin seperti sby memikirkan diri nya sendiri bukan rakyat nya.....
inilah seorang presiden yang meminta untuk di naikan gaji nya sangat di sayangkan bila dia seperti itu
Di masa pemilu dahulu Kami lihat gerak bola matamu seperti radar angkatan perang Yang dapat melacak suara jangkrik di waktu siang Sehingga, kami sempat percaya bahwa Tuan-tuan tahu apa yang kami mau Kami pun sempat percaya bahwa Tuan-tuan akan menjadi pelindung kami dari orang-orang yang hanya ingin memperkaya diri sendiri yang hanya ingin menjadikan kuasa dan harta sebagai senjata Lewat retorikamu di saat kampanye dulu Kami percaya Tuan-tuan akan akan bersiaga untuk kami sepanjang waktu Menunggu keluh kesah rakyatmu Menampung dan merundingkan aneka kehendak kami diantara sesama para politisi Tetapi setelah masa kampanye jauh berlalu Kursi berputar menyambut sibukmu Rumah rakyat yang sejuk mememelukmu Birokrasi menjadi penyaring tamu-tamumu Kita pun berjarak seperti tak pernah saling tahu Jauh di luar ruang kerjamu ada pagar kekar berteralis baja Di sana kami berdiri berharap akan sapaanmu dan bersiap dengan pertanyaan: Mengapa diammu bukan lagi perenungan? Mengapa tidurmu bukan lagi jeda pengabdian? Mengapa retorikamu menjadi tanpa logika? Di kejauhan pun kami mendengar Suara tinggi mu menggelegar menggertak usulan rakyatmu sendiri yang tengah berharap tegaknya demokrasi sejati lewat Pemilu dan Pilkada yang bisa menghasilkan pemimpin sejati (Kami pun bertanya, "Mengapa tuan-tuan tidak berkenan ketika ada orang ingin menjadi pemimpin sejati negeri ini?") Dengan sigap tuan-tuan berujar, "Calon perseorangan merusak sistem!" "Calon perseorangan harus didukung 15% suara sah!" Dan seterusnya.. dan seterusnya Kami menjadi teringat ketika berjalan menuju ruangan kantormu Di sana kami melintasi para penjaga berseragam bak bala tentara Kaisar Romawi Yang sigap menyuruh kami memarkir kendaraan jauh dari halaman parkirmu Sehingga kami harus berlari agar segera bebas dari sengatan terik matahari Masih bisakah kami percayai janjimu Ketika acungan telunjukmu bukan lagi tanda janji Tetapi pengawal ucapanmu bahwa wakil rakyat adalah pemilik kekuasaan legislasi Kami pun mulai sadar bahwa kita sudah sangat berjarak karena kemahiran Tuan-tuan membedakan antara penyalur aspirasi dan kekuasaan legislasi antara kompetisi dan demokrasi Di media massa kami membaca Retorika-retorikamu dengan tajam merobek makna dan jawaban-jawabanmu yang makin jauh dari logika mencampuradukkan energi sekumpulan partai dengan energi seorang manusia yang tidak ada contohnya di mancanegara Jelas kami seperti orang-orang yang ditinggal pergi Oleh Tuan-tuan yang dulu mengaku ingin menjadi wakil-wakil kami dan dulu pernah memberi janji bahwa engkau akan menampung suara hati kami Tetapi ternyata waktu itu kami hanya bermimpi Retorika dan olah mimikmu tentu saja membuat banyak orang terpesona melumpuhkan niat orang-orang muda yang akan berdemonstrasi Bahkan membuat para lansia mengangguk-angkuk sambil tertawa Yang memberi pertanda bahwa akal sehat tidak lagi berarti Karena logika menjadi tidak berguna Sementara politik dilanda krisis etika dan kebijakan-kebijakan tercerabut dari kedaulatan rakyat maka hari ini kami coba menyapamu dengan puisi











Tidak ada komentar:
Posting Komentar